Si Asep dan Misi Rahasia Mencari Sinyal

Film Indonesia Paling Berkilau 2018: SUSAH SINYAL (2,17 juta penonton) -  Tabloidbintang.com

Di sebuah kampung yang tenang bernama Kampung susah untuk maju, hiduplah seorang pemuda bernama Asep. Di kampung itu, Asep terkenal bukan karena prestasinya, bukan juga karena ketampanannya, melainkan karena tingkahnya yang sering membuat warga tertawa sampai sakit perut.

Suatu pagi, Asep bangun lebih awal dari biasanya. Ia langsung mengambil ponselnya dan mencoba membuka media sosial. Namun, seperti biasa, sinyal di rumahnya hanya muncul satu garis, lalu hilang lagi seperti mantan yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

"Astaga, sinyal lagi-sinyal lagi!" gerutu Asep sambil mengangkat ponsel ke atas BEJOTOTO LOGIN.

Ibunya yang sedang menyapu halaman melihat tingkah anaknya lalu bertanya, "Kamu ngapain, Sep?"

"Mancing sinyal, Bu."

"Itu ponsel apa ikan?"

Asep hanya tersenyum kecut. Baginya, mendapatkan sinyal internet di rumah sama sulitnya dengan mencari durian jatuh tanpa suara.

Karena kesal, Asep memutuskan pergi ke tempat yang menurutnya memiliki sinyal paling kuat di kampung, yaitu bukit kecil di belakang sawah. Konon, di sana sinyal bisa mencapai tiga garis penuh. Bagi warga Sukamaju, tiga garis sinyal sudah seperti jaringan super cepat.

Dengan semangat, Asep berangkat membawa ponsel, topi, dan sebotol air minum. Di tengah perjalanan, ia bertemu sahabatnya, Ujang BEJOTOTO DAFTAR.

"Mau ke mana, Sep?" tanya Ujang.

"Mau cari sinyal."

"Memangnya hilang?"

"Iya, dari tadi pagi."

Ujang mengangguk serius seolah masalah itu sangat penting.

"Aku ikut."

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju bukit. Namun, baru setengah jalan, mereka melihat kerumunan warga di dekat kandang kambing milik Pak RT.

"Ada apa?" tanya Asep penasaran.

Ternyata seekor kambing lepas dan berlari ke sana kemari. Pak RT kewalahan mengejarnya.

"Tolong tangkap kambingnya!" teriak Pak RT.

Tanpa pikir panjang, Asep langsung ikut membantu. Ia berlari mengejar kambing tersebut dengan penuh percaya diri. Kambing itu berlari ke arah sawah, lalu melompat melewati parit BEJOTOTO.

Asep yang terlalu semangat ikut melompat.

Byurrr!

Bukannya berhasil melewati parit, Asep malah tercebur ke dalam lumpur.

Warga langsung tertawa terbahak-bahak.

Pak RT sampai memegang perutnya.

"Yang dikejar kambing, yang tertangkap lumpur!"

Asep bangkit dengan tubuh penuh lumpur. Yang membuatnya semakin malu, kambing yang dikejarnya justru berdiri tenang di belakangnya sambil mengunyah rumput.

Setelah kambing berhasil ditangkap warga lain, Asep melanjutkan perjalanan ke bukit. Meski bajunya kotor, tekadnya mencari sinyal tidak goyah.

Sesampainya di atas bukit, Asep bersorak gembira.

"Yes! Tiga garis!"

Ia langsung duduk dan mulai membuka berbagai aplikasi BEJO TOTO. Baru lima menit menikmati internet, baterai ponselnya tinggal dua persen.

"Waduh!"

Asep panik. Ia lupa mengisi daya semalam.

Dengan sisa baterai yang sedikit, ia berusaha mengirim pesan penting kepada teman-temannya.

Namun belum sempat terkirim...

Ponselnya mati.

Gelap.

Sunyi.

Hening.

Asep menatap layar hitam itu selama beberapa detik.

"Luar biasa," katanya pelan.

"Apa yang luar biasa?" tanya Ujang.

"Aku berhasil menemukan sinyal sebelum kehilangan baterai."

Mereka berdua tertawa getir.

Karena sudah terlanjur berada di bukit, mereka memutuskan beristirahat sambil menikmati pemandangan BEJOTOTO RESMI. Saat itulah ide aneh muncul di kepala Asep.

"Jang, bagaimana kalau kita bikin bisnis?"

"Bisnis apa?"

"Jasa pencari sinyal."

Ujang mengernyit.

"Maksudnya?"

"Kita antar warga ke tempat yang sinyalnya bagus."

Ujang berpikir sejenak.

"Aneh sih, tapi masuk akal."

Keesokan harinya mereka membuat papan bertuliskan:

JASA TOUR MENCARI SINYAL
Cepat, Aman, dan Banyak Angin.

Tarif: Rp5.000 per orang.

Tak disangka, banyak warga tertarik. Bahkan beberapa remaja ikut menggunakan jasa mereka.

Asep pun berperan sebagai pemandu wisata.

"Di sebelah kiri kita ada pohon mangga legendaris. Di sebelah kanan ada sawah Pak Darto. Dan tepat di depan kita terdapat lokasi sinyal tiga garis yang sangat langka."

Para peserta tertawa mendengar penjelasannya.

Bisnis mereka berjalan cukup baik selama seminggu. Namun masalah muncul ketika salah satu peserta bertanya.

"Kalau hujan bagaimana?"

Asep menjawab santai.

"Ya sinyalnya basah."

Sejak jawaban itu, warga mulai meragukan profesionalitas usaha mereka.

Puncaknya terjadi saat Asep membawa rombongan ke bukit. Karena terlalu semangat menjelaskan, ia tidak melihat batu di depannya.

Bruk!

Ia tersandung dan berguling menuruni lereng.

Untung lerengnya tidak terlalu curam. Namun posisi akhirnya cukup memalukan. Asep berhenti tepat di dekat semak-semak dengan wajah penuh daun.

Semua peserta tertawa sampai ada yang merekam kejadian itu.

Video tersebut kemudian viral di grup WhatsApp warga kampung.
Meski bisnis pencari sinyal akhirnya tutup, Asep tidak berkecil hati. Ia justru bangga karena berhasil membuat banyak orang tertawa.

Beberapa hari kemudian, pihak desa memasang menara pemancar baru. Sinyal internet di Kampung Sukamaju menjadi jauh lebih baik.

Warga senang bukan main.

Ketika semua orang menikmati internet lancar, Ujang menghampiri Asep.

"Sep, sekarang sinyal sudah bagus. Bisnis kita bagaimana?"

Asep berpikir sejenak lalu tersenyum.

"Kita ganti usaha."

"Usaha apa lagi?"

Asep menjawab dengan penuh keyakinan.

"Jasa mengingatkan orang untuk mengisi baterai sebelum mencari sinyal."

Ujang tertawa keras.

"Memangnya ada yang lupa?"

Asep mengangkat tangan.

"Saya pelanggan pertama."

Sejak saat itu, tingkah kocak Asep tetap menjadi hiburan warga kampung. Meski sering mengalami kejadian memalukan, ia selalu bisa menertawakan dirinya sendiri. Dan mungkin itulah alasan mengapa semua orang menyukai Asep.

Karena di tengah berbagai kesulitan hidup, Asep selalu mengajarkan satu hal sederhana: kalau masalah tidak bisa langsung diselesaikan, setidaknya bisa ditertawakan dulu. Dan dalam urusan membuat orang tertawa, Asep memang ahlinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *